sebuah cerita inspiratif yang dibuat oleh kak Hevi Metalika Aprilia, seorang mahasisiwi Institut Petanian Bogor jurusan Silvikultur Fakultah Kehutanan, yang memiliki semangat juang yang tingggi untuk meraih cita-citanya sehinnga beliau menjadi seorang mahasiswa yang LUAR BIASA . Yuukkk SEMANGAT untuk meraih apa yang telah kalian rencanakan, kak Hevi aja bisa kenapa kita tidakk ???
SEMANGAAATTTTTT ..........
Aku, yang sejak kecil bahkan tidak berani bermimpi.
Aku, yang sejak SD bahkan tidak berani berangan untuk melanjutkan ke
SMP, apalagi SMA.
Aku, yang sejak berusia 9 tahun bahkan tidak merasakan lagi kehangatan
sebuah keluarga.
Aku, yang sejak berusia 10 tahun bahkan harus terpisah dari seseorang
yang telah melahirkanku.
Aku, yang sejak berusia 12 tahun bahkan harus menjalani kerasnya
kehidupan ini sendirian.
Aku, yang sejak SD-SMP hanya mengandalkan beasiswa untuk bisa sekolah.
Aku, yang sama sekali tidak tahu harus kemana setelah lulus SMA.
Aku, yang berangkat ke Bogor hanya bermodal niat, keberanian dan
semangat.
Aku, yang penuh dengan segala keterbatasan.
Aku, Hevi Metalika Aprilia. Pemilik nama aneh yang selalu ditertawakan
setiap kali memperkenalkan diri dalam sebuah forum baru.
Saat ini, aku seorang mahasiswa semester tiga Fakultas Kehutanan Institut
Pertanian Bogor. Setiap ditanya, bagaimana perasaanku menjadi bagian dari
kampus hijau ini, aku selalu menjawab dengan sangat antusias,
“Aku bangga
sekali !”. Bagaimana tidak, aku yang awalnya tak pernah berani bermimpi
sedikitpun untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ternyata bisa
sampai ke sini. Sebuah Perguruan Tinggi Negeri ternama di Negara ini. Aku masih
ingat perkataan ibuku melalui telepon tetangga saat itu,
“Nak, kan sudah
melanjutkan sampai SMA, jadi sudah dulu ya? Berhenti dulu, kerja dulu.”
Perkataan yang sama ketika aku baru lulus SMP. Bedanya, saat itu aku di
sarankan
untuk tidak melanjutkan ke SMA.
Ah, betapa saat itu hatiku terasa sakit. Memang, Ibuku hanya lulusan SMP dan
Bapakku lulusan SMA. Tapi, tidakkah aku memiliki kesempatan untuk memperoleh
pendidikan yang lebih tinggi dari mereka? Berbagai perasaan sedih dan sakit
berkecamuk dalam hatiku. Tapi aku tidak akan menyerah hanya dengan berkata
“iya”
begitu saja. Kalau dulu aku bisa berusaha hingga masuk SMA, kenapa ke perguruan
tinggi tidak?
Sungguh aku sangat mengerti, kenapa saat itu Ibu memintaku untuk tidak
melanjutkan ke perguruan tinggi. Tentu saja
satu hal itu yang menjadi
permasalahan utama. Uang. Aku tahu itu. Aku tak bisa berkata-kata lagi jika
sudah menyangkut hal itu. Ibu memang bekerja sendiri untuk membiayai seluruh
keperluan sekolahku dan adikku sejak dulu. Jangan tanya,
kamana Bapakku?
Tolong jangan tanyakan itu. Pertanyaan itu sangat menyiksaku. Pertanyaan itu
benar-benar membawaku ke sebuah masa lalu yang teramat menyakitkan.
***
9
tahun yang lalu….
Perempuan itu begitu asing. Perempuan itu datang bersama Bapakku, masuk ke
dalam rumah kami. Masuk ke dalam kehidupan kami. Aku masih begitu polos untuk
sekedar bertanya,
“Siapa perempuan itu?”. Yang aku tahu, betapa saat
itu tetangga-tetangga sibuk membicarakan keluarga kami. Katanya, perempuan itu
adalah
istri muda Bapakku. Dengan polosnya, aku menanyakan hal ini
kepada Ibu.
Ya Allah, betapa aku ingin menangis melihat ekspresi wajah
ibu. Aku ingin menangis. Bukan karena kesedihan Ibu. Bukan. Bahkan Ibu sama
sekali tidak menunjukkan wajah sedihnya. Dengan senyum lembutnya Ibu berkata,
“Iya.
Dia Ibu barumu, Nak.”
Sungguh aku tidak mengerti apa yang terjadi. Senyum Ibu. Ketegaran dan
kekuatan hatinya membuatku ingin menangis. Aku menahan tangisku dalam
pelukannya. Dan hatiku semakin terluka ketika melihat wajah adikku dalam
usianya yang baru menginjak tahun ke dua.
Hanya beberapa minggu perempuan itu tinggal di rumah kami. Dia kembali ke
tempat dimana dia berasal dengan membawa orang yang sebelumnya telah menjadi
kepala
keluarga kami. Ya, Bapak pergi meninggalkan rumah bersama perempuan itu.
Tidak pernah kembali lagi. Kepergian Bapak menyisakan ribuan luka di hati kami.
“Bapak, lihatlah. Berapa banyak hati yang terluka akibat tindakan itu ?”
***
Setelah kepergian Bapak, kondisi perekonomian keluarga kami semakin
memburuk. Ibu bekerja sebagai pencuci ikan di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang
terletak di sebuah pelabuhan yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami,
dengan gaji mingguan yang kurang dari seratus ribu rupiah. Saat itu aku duduk
di kelas 5 MI (Madrasah Ibtidaiyah)−setara SD (Sekolah Dasar), sedangkan adikku
baru saja masuk TK (Taman Kanak-Kanak). Tentu saja gaji Ibu tidak mencukupi
untuk kebutuhan kami bertiga. Ibu bermaksud ingin mencari pekerjaan lain, tapi
Ibu yang hanya lulusan SMP sangat sulit mendapat pekerjaan dengan gaji yang
lebih besar dari sebelumnya. Hingga tawaran itu datang, tawaran untuk menjadi
TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Malaysia. Setelah memohon ijin dari kami, Ibu
mengambil tawaran itu dengan syarat tidak mau bekerja di bagian rumah tangga
meskipun gajinya besar. Karena kami takut terjadi sesuatu dengan Ibu,
bagaimanapun juga banyak kasus TKW dianiaya yang bekerja di bagian rumah
tangga. 28 Juli 2003, ibu pergi meninggalkan kami.
Sejak hari itu aku tak pernah cukup kasih sayang, apalagi perhatian. Ibu
menitipkan aku dan adikku di sebuah
gubuk kecil bersama seorang nenek
tiri dari keluarga Ibu. Namun, tidak sampai satu bulan nenek tiriku memutuskan
untuk pindah ke kampung halamannya, dengan membawa satu-satunya keluarga yang
aku miliki−adik laki-lakiku yang saat itu berusia 3 tahun. Aku tidak mungkin
ikut, karena aku harus tetap bersekolah. Saat itu aku baru menginjak awal tahun
pelajaran kelas 6 MI. Akhirnya, aku tinggal sendirian di
sebuah gubuk
kecil satu-satunya peninggalan orangtuaku.
Di situlah aku mulai
merasakan dengan sadar, tentang kesedihan, kesepian, dan ketidaknyamanan
hidupku.
Ketika tiba saatnya untuk pelepasan siswa kelas 6 MI, aku merasa menjadi
anak paling malang di seluruh dunia. Semua temanku datang bersama orangtua
mereka. Sedangkan aku? Siapa walimuridku? Tak satupun keluargaku yang datang.
Lengkaplah kemalangan yang aku rasakan, ketika kepala sekolah mengumumkan di
atas panggung bahwa peraih nilai tertinggi adalah
Hevi Metalika
Aprilia−siswanya yang paling menyedihkan.
Ya Allah, untuk apa nilai tertinggi itu? Aku bahkan tak merasa
bangga pada diriku. Aku tak peduli, saat semua yang hadir menganggapku sebagai
anak paling pintar diantara teman-temanku. Aku samasekali tidak peduli. Apalah
arti penghargaan itu tanpa kehadiran orangtuaku ?
***
Begitulah kehidupanku berjalan hingga aku beranjak masuk SMP. Aku tinggal
sendirian.
Catat itu : sendirian ! Tapi tidak lagi
di
gubuk kecil-ku dulu. Gubuk itu kini diperbaiki dan dijadikan
tempat tinggal oleh pamanku dan istrinya.
Tapi, tunggu dulu ! Jangan
berfikir pamanku sangat baik hati dengan mengajakku tinggal di rumah itu. Aku
di usirnya. Ya, sekali lagi
diusir. Pakaianku di
letakkannya di depan rumah. Hingga aku dipungut oleh tetanggaku, yang kemudian
mengajakku tinggal bersamanya.
Hari-hariku terasa berat.
Aku sadar sesadar-sadarnya,
kalau aku cuma numpang. Sehingga setiap hari aku harus bekerja membantu
pamilik rumah, cuci-cuci, membersihkan rumah, halaman, hingga memasak.
Hidup
penuh kesabaran adalah hal yang paling sulit aku jalani.
Terkadang aku merasa iri dengan teman-temanku di sekolah. Mereka berangkat
dengan kegembiraan di hati mereka, dan pulang disambut ibu mereka di rumah.
Lalu, dengan ceria mereka bercerita tentang hari-hari seru mereka di
Sekolah. Sedangkan aku? Ketika aku pulang, tak ada siapapun di rumah.
Aku menangis setiap saat sampai air mataku kering. Tetap saja tak ada yang
peduli padaku. Begitulah aku menjalani
dunia-ku,
dunia-ku
yang aku yakini tak seorangpun ingin hidup dalam
dunia itu.
Hingga suatu hari, Bu Yuyun −guru di SMP Negeri 1 Palang− memanggilku ke
kantor. Beliau menyampaikan padaku bahwa ada orangtua murid yang sedang mencari
salah satu murid lain untuk menemani putrinya−yang nilai matematikanya
kurang−belajar dirumah. Kebetulan saat itu aku sebagai siswa dengan nilai
matematika tertinggi di sekolah
(Allahu Akbar). Demikian orangtua
murid itu menjemput dan mengajakku tinggal di rumahnya. Sebuah rumah yang
seolah
surga bagiku. Aku tinggal di rumah itu hingga aku duduk di
kelas 2 SMA.
***
Meski jarak yang begitu jauh memisahkan aku dan Ibu, tapi kami tetap menjaga
komunikasi. Ibu sering meneleponku melalui telepon dari rumah tetangga, karena
aku baru memiliki
handphone ketika masuk SMA. Mengenai kabar
adikku, aku sangat jarang bertemu dengannya. Aku hanya main ke sana jika
Idul
Fitri atau ada hari-hari libur tertentu.
Status Ibu memang masih menjadi seorang
istri, karena Bapak tidak
pernah mau menceraikan Ibu. Tapi itu hanya sekedar status semu menurutku.
Karena toh Bapak tidak pernah menafkahi keluarga kami lagi. Ibu masih teramat
muda untuk diperlakukan Bapak seperti ini. Ibu kelahiran tahun 1972,
masih
muda bukan?
Saat usiaku 16 tahun, aku sudah cukup untuk bisa berfikir dewasa. Aku sedih
melihat kondisi keluargaku seperti ini. Dengan mengumpulkan segenap keberanian
dan keteguhan hatiku, aku berniat mendatangi Bapakku di rumahnya. Nampaknya
Bapak sangat terkejut dengan kedatanganku. Beliau mempersilahkan aku duduk di
kursi depan rumahnya. Sebelum Bapak berkata apapun, aku memberondongnya dengan
kalimat-kalimatku yang entah aku dapatkan dari mana.
“Bapak mungkin heran dengan kedatanganku. Aku tidak ingin meminta
apapun. Sama sekali tidak. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang aku rasakan
selama ini. Bapak, lihat aku. Aku anakmu kan? Tapi pernahkah sedikit saja
engkau berfikir: Bagaimana keadaanku? Di mana aku tinggal? Apa aku sudah
makan? Bagaimana sekolahku? Pernahkah berfikir seperti itu? Tahukah kau bapak,
di mana aku sekolah? Kelas berapa aku sekarang? Berapa nilai raportku? Tahukah?
Bapak, sejak aku TK sampai sekarang bahkan engkau tak pernah sekalipun
menginjakkan kakimu di sekolahku untuk sekedar mengambilkan raportku. Bahkan
mungkin kau tidak tahu aku sekolah dimana? Tahukah, sejak kepergian Ibu ke
Malaysia kehidupanku terlantar. Dari satu rumah ke rumah lain untuk menumpang
tinggal. Tahukah, bagaimana perjuanganku untuk tetap bisa sekolah? Siapa yang
seharusnya bertanggung jawab atas hidupku? Atas pendidikanku? Tahukah, setiap
kali tiba waktunya pengambilan raport aku harus menangis dan memohon kepada
orangtua temanku agar sekalian mengambilkan raportku? Tahukah, setiap kali
pertemuan wali murid di sekolah tidak pernah ada yang datang menjadi waliku?
Pernahkah engkau memikirkan itu semua, Bapak? Pernahkah?”
Tak terbendung sudah air mataku. Aku menangis sejadi-jadinya. Setiap orang
yang berlalu-lalang di depan rumah menatapku dengan pandangan iba. Sementara
Bapak hanya diam mematung di hadapanku. Aku melanjutkan kalimatku,
“Dulu
mungkin aku masih diam saja, karena aku masih terlalu polos untuk mengerti
semua ini. Tapi sekarang tidak, Bapak. Aku tidak akan diam saja. Aku tidak akan
membiarkan hal yang sama terjadi pada adikku. Lihatlah, adikku sekarang berusia
9 tahun. Dia belum bisa baca-tulis. Tidak ada yang mengajarinya. Tidak ada yang
mengontrolnya. Aku minta tolong, Bapak. Aku mohon. Ceraikan ibuku. Dulu menikah
baik-baik kan? Jadi aku mohon berpisah juga dengan cara yang baik-baik. Jangan
mendzolomi Ibuku dengan tetap mengikatnya sebagai istri tapi tidak pernah
engkau perlakukan sebagai istri, tidak pernah kau berikan hak-haknya.
Ibuku masih terlalu muda. Biarkan Ibu menikah lagi. Biar Ibu bisa pulang dan
mendampingi adikku di rumah. Aku mohon.”
Sunyi. Tidak ada yang bicara sepatah katapun. Setelah diam cukup lama, Bapak
berkata,
“Pulanglah. Malu dilihat banyak orang !” Sejenak aku merasa
marah dengan ucapan Bapak. Setelah perkataanku yang begitu panjang. Hanya itu
tanggapannya?
Ya Allah, ampuni Bapakku. Beri aku kesabaran dan kekuatan. Aku
mengusap sisa air mata dengan jilbabku. Kemudian pergi meninggalkan rumah itu.
***
Menjelang Ujian Akhir Nasional SMA, hampir seluruh teman-temanku sibuk
mempersiapkan untuk mengikuti berbagai bimbingan belajar. Baik bimbingan
belajar untuk menghadapi Ujian Akhir Nasional, maupun untuk persiapan masuk
perguruan tinggi. Semua seolah berlomba-lomba untuk masuk di
perguruan
tinggi favorit. Namun, tidak dengan yang aku alami. Sejak awal semester
akhir di kelas 3 SMA, Ibu sudah mengingatkan aku,
“Nak, kan sudah
melanjutkan sampai SMA, jadi sudah dulu ya? Berhenti dulu, kerja dulu.”
Kalimat itu benar-benar menghantuiku. Selalu terngiang di telingaku setiap kali
aku tergabung dalam pembicaraan bersama teman-temanku tentang kuliah. Sehingga
aku hanya bisa diam dan tetap berusaha tersenyum menahan kepahitan tiap kali
ada yang bertanya,
“Mau kuliah dimana, Met?”
Hingga suatu hari datanglah kakak-kakak kelas dari berbagai perguruan tinggi
ke sekolahku−SMA Negeri 2 Tuban. Sama seperti teman-teman yang lain, aku begitu
antusias untuk mengikuti dan selalu bertanya-tanya tentang beasiswa. Tapi
nampaknya begitu sulit mendapat beasiswa bagi seorang mahasiswa baru.
Ya
sudahlah, Allah pasti punya rencana lain yang jauh lebih indah untukku.
Pikirku, setiap kali rasa pesimis itu datang.
Dan Allah benar-benar menunjukkan rencana indahnya. Akhir tahun 2010, Bu
Ida−Guru Bimbingan dan Konselingku−menyarankan agar aku mengikuti PMDK Prestasi
(USMI) di IPB. Awalnya aku menolak, sungguh aku tak punya uang satu rupiah pun.
Bagaimana mungkin aku akan mendaftar? Uang pendaftaran dua ratus ribu rupiah
aku dapat darimana? Tapi bu Ida terus meyakinkan aku, beliau berkata,
“Hevi,
berusahalah. Ibu yakin kamu pasti bisa. Ibu beri waktu 1 minggu untuk
mengumpulkan uang. Kalau sampai 1 minggu masih belum dapat juga, datang temui
Ibu”. Akhirnya, dengan penuh semangat aku berusaha mencari dan
mengumpulkan uang hingga tepat satu minggu setelah itu aku berhasil
mengumpulkan
Dua Ratus Ribu Rupiah. Berkas-berkas pendaftaran pun
dikirim.
Kamis, 4 Februari 2010. Jam pertama sekolah…….
Ketika aku sedang berada di lapangan mengenakan kaos olahraga, tiba-tiba Bu
Ida berjalan menuju lapangan dengan tampang kesal, sambil teriak
“Mana Hevi
!!! Mana…???” Aku kebingungan, sungguh aku benar-benar bingung. dengan
tampang tak berdosa aku balik bertanya,
“Iya Bu, saya Hevi Bu, Kenapa Bu?”,
“Mana temanmu yang lain?” Tanyanya lagi dengan tampang yang tak
berubah.
“Yang lain? Siapa Bu?” Aku kembali mengajukan
pertanyaan.
“Itu… Fikri, Deviana… sama siapa satunya yang daftar IPB
itu?”,
“Erna, Bu?”, “Ya, panggil semua kesini”.
Dengan cepat aku segera berlari menuju tengah lapangan, tak lupa
mengeluarkan jurus andalanku−teriak. Tak peduli semua mengumpat ke arahku.
Setelah semua kumpul, kami berjalan ke tepi lapangan menemui Bu Ida. Dengan
raut muka yang
tetap tidak berubah, bu Ida berkata
“Kalian
ini bagaimana? Masa 1 pun tidak ada yang lolos PMDK IPB ??”
Demi Allah, aku benar-benar ingin menagis. Dengan tampang
frustasi,
kami berempat terduduk lesu di tepi lapangan. Tiba-tiba Bu Ida berkata,
“Kalian
sih, tidak mau syukuran. Ayo lah syukuran di kantin sana !” Dengan tampang
bengong aku bertanya,
“LHO? Maksudnya? Katanya tadi? Bagaimana toh Bu?”.
Bu Ida malah nyengir lebar menanggapi pertanyaanku.
“Kalian Semua
DITERIMA masuk IPB”
Subhanallah, aku menangis. Sungguh aku menangis.
“Oh..iya,
kelihatannya salah satu dari kalian ada yang dapat beasiswa” tambahnya,
sebelum berlalu meninggalkan kami dalam kebingungan. Aku terduduk lesu di tepi
lapangan, seketika semua teman-teman menghampiriku. Mereka memelukku. Usai
olahraga, aku bergegas menuju Ruang BK mencari Bu Ida. Sepertinya Bu Ida tau
maksud kedatanganku, beliau segera menyuruhku duduk di hadapannya dan
menyerahkan MAP dari IPB kepadaku, Bu Ida menyuruhku membukanya. Di lampiran
ke-3 (kalo tidak salah) ada lampiran
Calon Penerima Beasiswa Bidik Misi.
Allahu Akbar !!!
Alhamdulillah, meskipun hanya formulir
Calon Penerima Beasiswa Bidik
Misi, tapi aku sangat bersyukur. Kesempatan itu semakin terbuka lebar.
Meski aku belum berani memberi kabar kepada Ibu bahwa aku telah mendaftar ke
IPB. Aku akan memberitahukannya nanti, nanti setelah beasiswa itu benar-benar
nyata di genggamanku.
Aku segera mengurus surat-surat dan berkas-berkas yang diperlukan untuk
persyaratan beasiswa itu. Menjelang H-2
deadline pengiriman formulir
dan segala macam persyaratannya itu, semua sudah lengkap aku penuhi. Aku
menyerahkannya pada pihak sekolah. Namun, ketika H-1
deadline
pengiriman, aku mendapat telepon dari pihak sekolah bahwa berkas-berkasku
hilang akibat kelalaian petugas sekolah.
Astaghfirullah,
ingin
sekali aku menangis dan berteriak marah. Jarak rumah dan sekolahku tidak bisa
dibilang dekat, aku sendiri
nge-kost di rumah teman yang dekat
sekolahku. Sore itu juga aku naik angkutan umum ke Desa tempat asalku. Yang
pertama kali menjadi tujuanku adalah rumah Kepala Desa, tentu saja ingin
meminta surat keterangan tidak mampu. Dua jam perjalanan ternyata masih kurang
sebagai bagian dari perjuanganku, aku masih harus menunggu Kepala Desa yang
ternyata sedang dalam perjalanan dari luar kota. Setelah 3 jam menunggu tak ada
hasil, karena sudah lewat jam 9 malam juga, aku memutuskan untuk menginap di
rumah salah satu temanku yang dekat dengan rumah Kepala Desa itu. Esok paginya,
setelah sholat shubuh aku langsung ke rumah Kepala Desa. Setelah itu aku
bergegas mengurus berkas-berkas yang lain, karena pagi ini semuanya sudah harus
dikirim ke IPB. Tetapi meski sudah berusaha semampuku, birokrasi yang begitu
rumit membuat aku terlambat melakukan semuanya. Hampir jam 3 sore semua
berkas-berkas baru bisa dipenuhi. Akhirnya, dengan mengharap keajaiban dari
Allah−semoga tidak terlambat−menjelang malam berkas-berkas baru dikirim.
***
Perjuangan itu indah, kawan. Lihatlah buah perjuangan sederhana itu.
Beberapa bulan setelah pengiriman formulir dan berkas-berkas itu, pengumuman
pun datang membawa kabar gembira. Bidik Misi pun hadir sebagai jawaban atas
rencana indah-Nya. Aku menjadi Mahasiswa, kawan. Mahasiswa. Sebuah label yang
dulu sama sekali tidak berani aku bayangkan.
Aku segera mengirim SMS kepada Ibu,
”Assalamualaikum. Ibu, saya mau
kuliah. Saya mau kuliah di Bogor”. Seketika itu Ibu langsung meneleponku.
Memberondongku dengan kalimat-kalimat marahnya,
“Waalaikumsalam. Nak,
kenapa kamu tidak bisa mengerti kondisi Ibu. Kondisi kita. Keadaan keluarga
kita. Ibu kan sudah bilang, Ibu tidak punya uang sepeserpun untuk biaya
kuliahmu. Kenapa masih memaksa untuk kuliah juga? (aku sengaja membiarkan
Ibu menegurku, memarahiku terlebih dulu. Sebelum aku menyampaikan kabar gembira
itu)
Ibu Mohon, Nak. Lebih baik kerja saja dulu”. Setelah Ibu berhenti,
aku mulai berbicara,
“Ibu, Ibu tahu kan aku bukan anak yang bisa melawan
orangtua. Aku tahu sekali, aku sangat tahu keterbatasan kita. Bu, dengarkan aku
ya, aku mendapat beasiswa. InsyaAllah Ibu bahkan tidak perlu mengirimkan uang
satu rupiahpun untuk kuliahku. Alhamdulillah, Allah mendengar doaku. Doa kita,
bu”. Aku pun menangis. Sama seperti seseorang di seberang telepon sana.
Kami sama-sama menangis penuh rasa syukur.
***
Mahasiswa luar biasa itu pun memulai perjalanannya. Ya, aku menyebut diriku
sebagai Mahasiswa Luar Biasa. Luar biasa berati
tidak biasa, bukan? Dan aku memang tidak biasa. Aku berbeda.
Lihatlah, di dalam bus luar kota tujuan Bogor itu, ketika mahasiswa yang lain
berangkat menuju Institut Pertanian Bogor ditemani orangtua yang duduk di
samping mereka, mahasiswa luar biasa itu tengah duduk bersama orang asing di
sampingnya. Dia berangkat sendiri, menyiapkan semuanya sendiri. Bahkan membawa
2 kopernya dengan tangannya sendiri.
Lihatlah, Mahasiswa Luar Biasa itu dengan keberaniannya datang ke tempat
yang begitu asing baginya. Tempat yang dia yakini akan menjadikannya menjadi
orang besar. Sebesar kekuatan dan keteguhan di dalam hatinya. Lihatlah, dia
begitu percaya dengan janji-janji Tuhan-Nya, bahwa “Setelah kesusahan,
selalu ada kemudahan”
***
Kedatanganku ke Bogor yang hanya bermodalkan niat dan semangat sempat
membuatku minder sendiri. Aku takut tidak bisa mengimbangi teman-temanku di
asrama. Aku takut tidak cocok bergaul dengan orang yang
‘berbeda’
denganku. Tapi, ketakutan-ketakutan itu justru berujung pada
pengalaman-pengalaman yang besar. Pengalaman bertemu dan mengenal sosok-sosok
yang mengagumkan.
Aku yang baru menyadari bahwa aku diterima di Fakultas Kehutanan, merasa
sedikit ganjil. Ya, aku sama sekali tidak tertarik dengan jurusan ini. Pilihan
pertamaku adalah
Arsitektur Lanskap, sesuai hobi menggambarku. Awal
kuliah di kehutanan, aku sangat tidak menikmati.
Ya Allah, bahkan aku tidak
mengerti mata kuliah di jurusanku sendiri. Tapi, berjalannya waktu aku
mengerti, aku memahami. Allah punya rencana besar di balik semua ini.
Juni 2011, sebuah pengalaman luar biasa itu di mulai. Berawal dari sebuah
ajakan untuk menulis karya sederhana,
paper. Yang kemudian dikirimkan
dan diterima di sebuah
event ICEEA 2011
(International Conference
on Environmental Engineering and Applications) di Shanghai, China. Dalam
kelompok ini, perasaanku seringkali terlibat. Rasa minderku muncul lagi. Latar
belakang yang berbeda benar-benar aku rasakan di sini.
Registration author
yang memerlukan biaya ratusan dolar benar-benar memeras otakku. Ketiga temanku
dapat dana dari keluarga mereka, sedangkan aku? Siapa keluargaku? Sementara
pengajuan proposal belum bisa dilakukan sebelum proses registrasi ini selesai.
Mondar-mandir ke sana ke mari tidak ada hasil. Berniat mendanuskan tenaga, tapi
tidak ada tanggapan. Sementara
deadline pembayaran semakin mepet.
Berkali-kali aku berfikir ingin mengikhlaskan kesempatan ini, toh dari awal aku
tak pernah punya impian untuk ke luar negeri. Tapi kata-kata seorang kakak yang
menjadi pembimbing kami benar-benar menjadi beban buatku,
“Kakak tidak
merestui kalian pergi, jika ada salah satu yang tidak berangkat karena faktor
ekonomi”. Sungguh, sejak saat itu malam-malamku dipenuhi air mata. Ingin
sekali aku ungkapan segalanya pada sosok
Ibu. Tapi itu mustahil.
Hingga hari-H itu datang,
deadline registration author. Kembali
Allah menunjukkan rencananya yang indah. Akhirnya, kami semua dapat membayar
registration
author yang totalnya 1600 dolar itu.
Tapi perjuangan tidak berhenti sampai di situ, kawan. Justru setelah
pembayaran registration author
itu perjuangan yang lebih berat baru
saja di mulai. Lihatlah, mahasiswa luar biasa itu bersama teman-temannya
berkumpul dan rapat setiap hari. Dari pagi sampai larut malam. Setiap hari.
Selama hampir 2 bulan. Tanyakanlah, apa yang mereka lakukan selama itu?
Lihatlah, kawan. Dengan penuh semangat mereka mengumpulkan biaya
keberangkatan. Mereka berjualan nasi kuning, kue, bunga, hingga parsel. Mereka
tawarkan dagangannya dari satu rumah ke rumah lain. Mengetuk setiap pintu yang
mereka lewati. Lihatlah, mereka tidak malu melakukannya.
Hasilnya?
Lihatlah, 18 Agustus 2011 mereka berhasil mewujudkan impiannya. Mereka
berhasil menginjakkan kakinya di sebuah Negeri yang maju. Shanghai, China.
***
23 Agustus 2011, 00:10 WIB
Aku kembali menginjakkan kakiku di Negeri ini, Indonesia. Begitu sampai di
kamar kostku, aku segera tertidur dengan lelapnya. Sore harinya langsung
berangkat ikut rombongan teman-teman untuk mudik ke Tuban, Jawa Timur.
Sebenarnya, aku
malas sekali untuk pulang ke kampung halaman. Bukan
karena sudah nyaman di Bogor, sama sekali bukan. Tapi karena aku sama sekali
tidak tahu harus ke mana jika aku tiba di Tuban. Tidak ada rumah yang menjadi
tujuanku. Tapi aku sudah terlanjur memesan tiket pulang. Akhirnya aku pulang.
Setelah 17 jam lebih di perjalanan, aku sampai di Tuban. Tidak banyak yang
berubah dari kota ini, hanya saja ada beberapa bangunan dan tempat wisata baru.
Aku dijemput di dekat terminal bis oleh teman SMA-ku, kemudian istirahat
sejenak di rumahnya. Kampungku masih jauh dari kota ini, harus naik angkutan
umum kurang lebih satu jam, itupun kalau tidak macet. Jadi aku memutuskan untuk
tidur siang dulu di rumah sahabat lamaku ini.
Menjelang sore hari, aku memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku.
Selama perjalanan, aku dilanda
kegalauan yang luar biasa. Entahlah,
aku juga tidak tahu apa sebabnya. Yang pasti, saat itu hanya satu yang tidak
bisa lepas dari pikiranku :
“Kemana aku menginjakkan kakiku setelah sampai?
Ke rumah siapa?”. Tepat setelah
adzan maghrib berkumandang, aku
sampai di jalan setapak menuju rumah sepupu ibuku yang dulu aku pernah sempat
tinggal di sana. Di rumah itu, masih ada beberapa barangku yang tertinggal,
jadi sekalian saja aku ke sana−pikirku.
Aku masih ingat dengan jelas, saat itu masih bulan
ramadhan, dan
aku sedang berpuasa. Begitu aku menginjakkan kaki di rumah itu, tak satupun
penghunianya menyapaku dengan ramah. Tentu saja aku tidak berani memasukkan
koperku ke dalam, sehingga koper dan tas ranselku aku tinggal di depan pintu
rumah. Melihat kondisiku yang begitu lelahnya, tak sedikitpun mereka menawarkan
minuman.
Ya Allah, aku belum berbuka puasa. Aku benar-benar menahan
air mataku agar tidak keluar.
Segera aku mencari warung terdekat untuk membeli minuman. Aku menghampiri
sebuah warung minuman, yang dulu merupakan warung langganan di masa kecilku.
Tetangga-tetanggaku kaget melihat kedatanganku. Banyak yang mengajakku
berbincang tentang keadaanku selama di Bogor. Alhamdulillah, ada yang
menawariku berbuka puasa, dan aku pun sholat di salah satu rumah mereka. Setelah
itu, aku memberanikan diri membawa koper dan tas ranselku meuju rumah adik
kelasku yang dulu sangat akrab denganku. Aku menceritakan kondisiku saat itu,
dia menawariku untuk menginap di rumahnya selama aku liburan di sana. Aku tidak
langsung menjawab
‘iya’, aku hanya mengucapkan terima kasih banyak
atas tawarannya.
Saat itu aku benar-benar tidak bisa berhenti menangis. Aku menangis dalam
keheningan di sudut kamar adik kelasku ini. Aku membuka
facebook dan
langsung
update status seperti ini :
“Sedih ga sih? Ketika mudik ga ada tempat yang bisa kita tuju?
Sakit ga sih? Ketika pulang ga ada tempat yang bisa menerima kita untuk
sekedar duduk istirahat? Pengen balik ke bogor. Seenggaknya aku punya kamar
kost di sana L
”
Dalam hitungan detik, banyak
komentar masuk secara bersamaan.
Hingga saat itu, seseorang langsung meneleponku. Teman SMP-ku, yang dulu pernah
mengajakku tinggal di rumahnya. Rumahnya yang dulu seolah surga buatku. Bahkan
hari itu kembali dia menelepon dan memintaku ke rumahnya setelah dia membaca
statusku.
Lihatlah, kawan. Lebaran yang umumnya dinikmati setiap orang bersama
keluarganya, justru dinikmati bersama keluarga orang lain. Hidup memang aneh.
Oh tidak ! Ralat : Hidupku memang aneh. Aneh.
Tidak biasa. Luar biasa.
***
Sehari setelah lebaran
Idul Fitri aku segera kembali ke Bogor.
Meskipun sebenarnya masih ada waktu libur satu minggu lagi, tapi aku tak
berminat melanjutkannya. Aku lebih memilih menghabiskan sisa liburanku di kamar
kost-ku sambil mengerjakan
Laporan Pertanggung-Jawaban ICEEA 2011.
Sebuah berita yang mengejutkan hadir di minggu terakhir bulan september.
Tiba-tiba aku bersama dua orang temanku mendapat panggilan dari Humas IPB untuk
wawancara. Katanya, kami sebagai mahasiswa Bidik Misi yang telah berhasil
menorehkan prestasi di luar negeri.
Prestasi? Ya Allah, apa yang harus aku
katakan? Itu hal yang sangat biasa menurutku. Bukan apa-apa. Aku malu dengan
kalimat itu, “menorehkan prestasi di luar negeri” ?
Beberapa hari setelah itu, hal yang lebih mengejutkan berkali-kali lipat itu
hadir lagi. Namaku, bersama dua orang temanku itu terpampang di
Web
Direktorat Kemahasiswaan IPB sebagai
Mahasiswa Bidik Misi Berprestasi.
Dan ternyata itu belum cukup, keesokan harinya tulisan yang sama termuat
dalam
Kompas.com dan
Web Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementerian
Pendidikan Nasional.
Ya Allah, ini anugerah atau musibah? Aku bingung. Bingung sekali.
Apalagi sebagai akibat dari tulisan-tulisan itu banyak sekali yang mengucapkan
selamat
melalui pesan
facebook. Anehnya lagi, ucapan-ucapan itu sebagian
besar datang dari mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi lain.
Aku bingung, harus bagaimana menanggapi pesan-pesan itu? karena kenyataannya
sungguh jauh berbeda dari berita yang tersebar itu.
Kawan, dengarlah. Aku tak sehebat apa yang ada di pikiran kalian. Aku
memang mahasiswa luar biasa, tapi konotasinya sebagai mahasiswa yang memang
bukan mahasiswa seperti kebanyakan mahasiswa lain. Aku bahkan tidak mengerti
mata kuliah di jurusanku sendiri. Aku bahkan selalu mengantuk dan tidur di
pojok kelas ketika dosen sedang memberi materi di depan. Aku bahkan sering
bolos kuliah. Aku malu sekali.
Berita-berita itu memang terlalu berlebihan menurutku. Tapi seseorang
meyakinkanku, bahwa aku tidak boleh merasa malu atas berita itu. Justru aku
harus menjadikannya sebagai alasan kuat agar aku bisa lebih baik lagi. Lebih
baik lagi, menjadi mahasiswa luar biasa yang benar-benar luar biasa. Luar biasa
dalam konotasi yang benar-benar tidak biasa dalam hal ke-
tidakbiasa-an
yang baik.
***
Itulah kisahku. Kisah yang merupakan bagian dari proses kehidupan.
Mungkin di awal banyak bagian pahitnya. Tapi aku percaya, bagian manisnya akan
terasa di akhir. InsyaAllah.
Kepada Bapakku, ingin sekali aku katakan langsung di depannya :”Bapak,
terimakasih banyak untuk semuanya. Karenamu aku bisa seperti sekarang. Mungkin
tanpa keputusan dan tindakanmu dulu yang meninggalkan kami, aku tak akan bisa
menjadi sekuat, setegar, dan seteguh sekarang. Terimakasih karena pernah begitu
membuatku sakit hati. Mungkin memang itu caramu untuk mengajarkan kehidupan
padaku. Hingga aku bisa seluar biasa ini.”
Sedangkan kepada Ibu, aku selalu berbicara padanya melalui hatiku. Yah,
tentu saja. Karena ibuku selalu di hatiku. Setiap saat. Setiap waktu.
***
Kawan, dengarlah. Hidup ini terlalu indah untuk dilewati dengan berbagai
macam keluhan. Hidup ini terlalu indah untuk dibiarkan tanpa dihiasi dengan
sesuatu yang berkesan. Hidup ini terlalu indah untuk sekedar diagung-agungkan
dengan impian-impian yang hanya dibiarkan tanpa perwujudan.
Maka, bergeraklah !
Bergeraklah membuat suatu perubahan besar dalam hidupmu !
Bogor, 10 Desember 2011
Di tepi Sungai Cangkurawok,
Balebak, Dramaga-Bogor