Sabtu, 20 Juli 2013

Luar Biasa ! Betapa Berharganya Perempuan, Betapa Mulia Tugasnya


Telah dituliskan: April 27, 2013 | Penulis: Bunga Pejuang |
 
Perempuan adalah tiang negara, apabila ia kuat, kuat pula negara itu. Apabila ia bermartabat, bermartabat pula negara itu. Ya, karena dari rahim perempuanlah akan dilahirkan calon-calon generasi pewaris negeri. Sembilan bulan bersembunyi hangat di dalamnya, bukanlah waktu yang singkat untuk membentuk koneksi fisik dan jiwa antara ibu dan anaknya. Setiap suap makanan yang masuk ke dalam tubuh Sang Ibu, akan menjadi bagian dari tubuh Sang Anak, apabila asupannya baik, baik pula pertumbuhannya. Setiap suara yang dikeluarkan oleh Sang Ibu akan didengar jelas oleh anaknya, apabila baik yang diperdengarkan sejak awal, insyaAllah baik pula perkembangannya. Luar biasa! Betapa berharganya perempuan, betapa mulia tugasnya.
Setelah sembilan bulan berlalu, maka terlahirlah Sang Anak ke muka bumi ini. Ia datang dengan tangisan, tapi Sang Ibu menyambut dengan senyum penuh keharuan. Ya, disinilah misi besar itu dimulai, “Sekolah pertama” bagi Sang Anak. Seorang penyair pernah berkata “Sesungguhnya bangsa-bangsa akan tetap eksis selama akhlaq mereka masih tetap eksis. Jika akhlaq mereka hancur, maka hancur pula eksistensi mereka.” Inilah tantangannya, akhlaq Sang Ibu, adalah contoh nyata bagi Sang Anak, apabila ibu terbiasa makan dengan tangan kanan, maka anak akan menirunya. Apabila ibu terbiasa berbicara dengan sopan dan halus, maka anak akan menirunya, begitupula sebaliknya.
Ya, masa-masa ini adalah masa emas bagi Sang Anak, tidak tahu hal itu benar atau salah, yang jelas ia hanya bisa meniru, meniru apa yang ia lihat dan meniru apa yang ia dengarkan. Dengan memori yang masih kosong, maka setiap file itu akan terpatri kuat di dalam ingatannya, dan akan terbawa hingga ia dewasa.  Lalu siapakah yang paling dekat dengannya diwaktu-waktu itu? Siapakah yang menggendong dan menyusuinya selama kurang lebih dua tahun lamanya? Dialah ibu. Luar biasa! Betapa berharganya perempuan, betapa mulia tugasnya.
Setiap hari Sang Anak semakin tumbuh dan berkembang. Dengan belaian kasih sayang Sang Ibu, ia mulai tumbuh menjadi sesosok manusia yang bisa membedakan tangan kiri dan kanan, dengan kata lain ia sudah bisa membedakan baik dan buruknya suatu hal. Sudah selesaikah tugas Sang Ibunda? Belum.. Sama sekali belum… Justru tantangan yang akan dihadapi akan semakin besar. Sang Ibu harus punya ilmu, ia harus cerdas dalam bersikap, karena Sang Anak akan semakin sering bertanya, “Bu.. Kenapa ini? Kenapa itu? Kenapa harus begini? Kenapa harus begitu?” Jangan ditanya jika sampai Sang Ibu salah menjawab, atau mungkin bisa menjawab dengan benar, tetapi salah penyikapan, bisa fatal akibatnya. Luar biasa! Betapa berharganya perempuan, betapa mulia tugasnya.
Maka, untukmu wahai para perempuan mulia. Mulai saat ini, mulai dari yang paling sederhana, dan mulai dari diri kita sendiri, mari kita belajar, mari kita persiapkan, misi mulia itu, misi yang besar itu, persiapkan generasi yang akan mewarisi negeri ini.
“Tak perlu habiskan energi, untuk menuntut kesetaraan peran dengan kaum lelaki. Optimalkan saja peranmu sebagai perempuan yang kelak akan melahirkan para pewaris negeri, karena sesungguhnya perempuan adalah pilar kebangkitan suatu bangsa.-Forum Perempuan BEM-SI-
Bogor, 27 April 2013
17.01 WIB

Buku Agenda Ramadhan Mendidik untuk Apa??


      Terispirasi untuk nulis saat melihat para anak kecil lebih tepatnya anak SD yang lagi pada sibuk ngurusin buku agenda ramadhannya saat shalat tarawih. Mereka menghiasi buku agenda ramadhannya dengan tanda ceklis biar terlihat penuh sebagai bukti bahwa mereka telah melaksanakan serangkaian ibadah pada bulan ramadhan ini. Yang membuat gua heran, mereka kok malah lebih sibuk sama bukunya ya daripada shalat tarawihnya. Ckckckc yang lebih lucunya lagi saat shalat terawihnya baru aja selesai, terus dilanjutin shalat witir ehh mereka malah udah siap siap beresin peralatan shalatnya dan bersiap-siap untuk mengantri buat minta tanda tangan sama imam. Ampunn dahhh ahhhhhh !!!!
Tanda tanya besar dalam benak gua, sebenarnya tujuan dari buku agenda ramadhan itu apa sih ?? Buat mendidik biar rajin ibadahnya? Atau buat mendidik mereka untuk berbohong??
Mereka tuh malah sibuk bagaimana caranya supaya buku agenda ramadhan mereka penuh, terus dilihat deh sama guru disekolahnya, teruss dapet nilai baguss gitu?? Hadeuuhhh --__--  . lalu serangkaian ibadah yang mereka lakukan itu gimana??
Yang lebih parahnya lagi ada seorang ibu-ibu yang malah memperburuk keadaan untuk menyuruh mereka memanipulasi tanda tangan imam, biar mereka gak perlu cape-cape ngantri untuk minta tanda tangan. Hadeeuuhhh buuu buuu, kumaha si ibu mahh ini ??
Bukannya mendidik anaknya untuk belajar jujur dan rajin ibadah malah memperburuk keadaan dengan menyuruh berbuat curang.
Sebenarnya tujuan adanya buku agenda ramadhan itu baik lohh. Buku itu melatih anak untuk disiplin dan rajin beribadah. Karena apabila melakukan sesuatu dari sejak dini maka akan terbiasa saat dewasa nanti. Tapi masyarakat malah salah merealisasikannya untuk melakukan sesuatu yang malah tidak baik.
Namanya juga anak-anak, mereka masih labil dan polos yahhh. Naahhh, jadi disini peran orang tua lah yang paling penting. Orang tua harus bisa mengawasi dan mendidik anaknya dalam melakukan suatu perbuatan dengan jujur. Apalagi untuk suatu perbuatan ibadah yang wajib dilakukan untuk setiap umat islam. Ya memang saat ini mereka masih kecil dan belum mengerti bagaimana cara beribadah dengan baik. Justru disini peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membimbing anaknya. Orang tua harus mengajari anaknya untuk terbiasa beribadah seperti melaksanakan puasa , shalat serta shalat tarawih dengan baik. Orang tua juga harus mengawasi anaknya untuk memastikan bahwa anaknya benar-benar melaksanakan hal tersebut. Jangan malah menyuruh mereka untuk berbuat curang. Kalau dari kecil aja sudah diajarkan untuk bebuat yang tidak baik, bagaimana besarnya nanti?? Cckkckckck
Ayo para ibu dan ayah berikan perhatian kalian kepada anak-anakmu tercinta agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang menawan untuk membahagiakanmu kelak di dunia maupun di surga nanti J .

Senin, 15 Juli 2013

Sang Pengemis, Para Hakim, dan Kita Semua

intinya kalau kita mau menolong ya menolong aja, dosa dan pahala kan hanya ALLAH yang tahu.
tetap istiqomah yahh dalam melakukan kebaikan :)





Saat aku masih duduk di bangku SMP, ada seorang pengemis tua yang selalu duduk di depan gerbang sekolah di pagi, siang, dan sore hari. Aku bertemu dengannya saat pagi-pagi, saat aku baru datang ke sekolah, dan sore hari saat aku dan teman-temanku pulang. Aku tidak pernah memberinya sepeser pun. Saat itu, ada doktrin sangat kuat yang mengatakan bahwa memberi uang kepada pengemis adalah perbuatan yang sangat tidak baik. Bahwa melakukannya bahkan merupakan dosa, bahwa itu berarti membuat mereka menjadi orang yang malas, orang yang tidak mau bekerja.
Beberapa bulan menjelang kelulusanku dari SMP, pengemis tersebut sudah tidak ada. Aku merasa bingung, namun aku diam saja saat itu. Hari-hari terakhir di SMP adalah saat-saat yang paling menyenangkan, di mana setiap berkumpul bersama teman adalah pesta, mengobrol bersama mereka adalah canda tawa, serta jam-jam yang dicuri untuk kisah kasih sekolah yang sangat belia. Aku sangat menikmati saat-saat tersebut, dan meskipun aku tidak memiliki begitu banyak teman di sana, aku sangat bahagia. Aku tidak begitu memedulikan ketidakhadirannya.Hingga akhirnya, pada suatu siang beberapa hari menjelang pesta perpisahan di sekolah, setelah menghabiskan siang yang panas dengan bermain basket bersama anak-anak kelas, aku membeli minuman dingin di warung depan sekolah. Saat aku duduk di bangku kayu tersebut, menatap gerbang sekolah yang kosong, aku teringat kembali akan si pengemis tersebut. Menoleh ke bapak-bapak penjaga warung yang sudah kukenal, aku bertanya padanya kemana gerangan si pengemis tersebut, dan kenapa dia tak pernah datang lagi.
Jawaban yang kuterima sangat singkat: “Dia sudah wafat.”
Setelah shock-ku mereda, aku kembali bercakap-cakap dengan si bapak penjaga warung. Beliau memberitahuku bahwa si pengemis tersebut usianya sudah 60 atau 70 tahun-an. Pengemis tersebut dulunya tinggal di sebuah desa nelayan di dekat pantai. Profesinya, sebagaimana penduduk desanya, adalah sebagai nelayan, dan konon dulunya dia juga memiliki reputasi sebagai nelayan yang tangguh, seorang jawara, dan banyak lagi.
Namun, kejayaannya tidak berlangsung lama. Anak-anaknya sudah pergi dari desa, tidak pernah kembali, kemudian istrinya meninggal, kapalnya akhirnya rusak, fisiknya akhirnya melemah, dan pembangunan merambah wilayahnya. Dia termasuk dari salah satu yang tak bisa bertahan, dan akhirnya terdampar di jalanan. Kalau malam, si pengemis tersebut biasa tidur di gubuk-gubuk yang banyak terdapat di kampung belakang sekolahku.
Setelah berpuluh tahun mengemis dan hidup di jalan, fisiknya akhirnya menyerah. Penyakit dan usia menyusulnya, dan maut akhirnya memanggilnya. Setelah itu, dia tak bisa, dan takkan pernah lagi, mengemis di depan sekolahku.
Dalam percakapan 10 menit tersebut, aku mengetahui lebih banyak tentang si pengemis tua yang selama dua tahun lebih kutemui dan kulewati setiap harinya di depan sekolahku. Pengemis yang tak pernah kusapa, kulirik, bahkan kuberi sepeser koin pun selama dua tahun lebih dia ada di kehidupanku.
.
Manager : pak, cape ya abis ngemis..? Laper ya pak..?
Pengemis : biasa aja tuh, hari ini udh makan 3x.
Manager : loh..? uangnya cuman buat makan bapak? anak dan istri di rumah makan apa?
Pengemis : kayak orang susah aja..! istri dan anak saya lagi di restoran tau! Tadi barusan telpon saya, mereka lagi makan di Kuningan.
Manager sampai kebingungan dan berkata : emank bapak ngemis 1 hari dapet brp..?
Pengemis : nih ya.. Saya kasi tau..!!Saya ngemis dari jam 07.00-17.00.Lampu merah atau hijau waktu nya 60 detik. Setiap 60 detik paling ngak saya bisa dapet 2.000. 1 jam = 60 kali lampu merah/Hijau. 60 x 2.000 = 120.000 /jam 1 hari saya kerja 10 jam, 1 jam buat istirahat jadi 9 jam. 9 jam x 120.000 = 1.080.000/hari. 1 bulan saya kerja 26 hari. 26 hari x 1.080.000 = 28.080.000/bulan.
dst.
Pernah dengar atau baca cerita seperti di atas? Mungkin pernah mungkin tidak, tapi saya 80% yakin teman-teman sedikitnya pernah mendengar mengenai cerita tersebut. Premise-nya sama: seorang manajer/pekerja/orang yang pekerja keras datang ke restoran/suatu tempat dan bertemu dengan seorang pengemis. Kemudian, pengemis tersebut bercerita, dengan sombongnya, betapa menjadi pengemis adalah pekerjaan yang sangat mudah dan menguntungkan. Hanya dengan duduk-duduk dan memasang muka merana, dia bisa mendapatkan uang dengan jumlah yang sama, bahkan melampaui, si manajer tersebut.
Doktrin-doktrin dan cerita-cerita tersebut telah ada cukup banyak dan cukup lama. Mungkin sejarahnya sudah ada sejak jaman internet pertama menginjak Indonesia, atau bahkan lebih lama lagi. Dalam cerita-cerita tersebut, pihak pengemis menjadi pihak yang sangat amat dipojokkan, digambarkan sebagai pure evil, pure cunningness, sementara si pekerja keras adalah the innocent one. Siapa pun yang familiar dengan kepenulisan cerita pendek, terutama yang bertemakan Fantasy dan Science Fiction, pasti tahu bahwa dalam sebagian besar cerita-cerita yang populer dan terkenal dan sukses terdapat dua bumbu tersebut: satu protagonis, satu antagonis. Satu sebagai penarik simpati, dan satu sebagai antipati.
Dan tahukah? Sebagian besar cerita-cerita tersebut berhasil. Setelah membaca cerita-cerita tersebut, para pembacanya – yang aku yakin targetnya adalah remaja dan ABG dan teman-temannya – akan merasa tidak suka pada si pengemis. Mereka akan merasa benci pada para pengemis. Dan dengan rasa benci yang besar tersebut, mereka menjadi takkan mau menolong pengemis-pengemis tersebut, bahkan tidak sepeser pun.
Kenapa hal ini terjadi? Karena sebagai pembaca, sebagian besar dari kita begitu mudahnya dapat terbawa arus, terbuai oleh kata-kata nan indah. Indah bukan dalam estetis, melainkan sintesis. Begitu mudahnya kita mengikuti, begitu sederhananya kata-kata dan ide di dalamnya, hingga kita tak berpikir kritis saat membaca cerita-cerita tersebut.
Ambillah contoh kisah Harry Potter. Dalam cerita tersebut, Lord Voldemort (there. I said his name!) digambarkan sebagai pure evil. Kisah masa mudanya pun menggambarkannya sebagai sosok yang heartless. Padahal, siapa pun pasti tahu bahwa tak ada manusia yang lahir sebagai orang jahat. Lingkungannya-lah yang membentuknya.
Aku pernah menuliskannya dalam sebuah esai, bertahun-tahun lalu: pernahkah ada yang membayangkan bagaimana rasanya hidup, sebagai anak yatim-piatu, di London pada masa Tom Riddle, aka. Voldemort, masih kecil? Tak mengetahui siapa orangtuamu, hidup di lingkungan yang begitu mengungkung, masyarakat yang begitu menghakimimu, dan sirene serangan udara yang siap berbunyi setiap harinya? Setiap malam tidur dalam lindungan kelambu, bertanya-tanya apakah kita masih akan terbangun dan hidup untuk menyaksikan hari esok?
Dan kalau pun terbangun, kehidupan yang sama buruknya pun masih menunggu. Tidak mungkin seorang anak melalui itu semua tanpa trauma, dan tidak mengherankan seorang anak bisa cukup trauma, cukup putus asa, cukup marah hingga rela menjual jiwanya demi menjadi Pangeran Kegelapan untuk menghancurkan dunia seperti itu.
Pernahkah ada yang memikirkan sisi Voldemort yang itu?
Kemudian, mari kita lihat dari sisi para pengemis. Bukan, bukan hanya para pengemis, tapi juga semua orang yang hidup di jalanan. Orang-orang seperti preman, anak jalanan, gelandangan, dan ‘sampah-sampah masyarakat’ lainnya.
Tahukah bagaimana rasanya hidup di jalanan? Tidak memiliki atap untuk berlindung, kedinginan di bawah jembatan, berjuang melawan angin, hujan, dan terik matahari. Dikerjai oleh anak-anak yang jahil, diincar oleh orang-orang jahat, diancam oleh para penguasa jalanan, dan diburu oleh para penegak hukum. Di beberapa kota, mereka bahkan disapu bersih hanya karena akan adanya acara-acara besar seperti event olahraga di kota-kota tersebut.
Tidur di malam hari dalam kedinginan, menggigil dan bertanya-tanya apakah bisa melewati malam dan mencapai esok hari. Kalau pun esok hari tiba, kehidupan yang sama masih menanti. Dalam kondisi seperti itu, layakkah bertahan hidup?
Sementara kita, para orang-orang berpendidikan, golongan ‘masyarakat berada’, bukannya menolong kita semaksimal mungkin, malahan merendahkan mereka. Menghakimi mereka. Menghasut lebih banyak lagi orang untuk tidak mau menolong mereka, bahkan tidak untuk sepeser pun.
Kita, orang-orang yang seharusnya bisa berbuat dan berpikir lebih, justru bertindak sebagai hakim. Menjatuhi hukuman terhadap orang-orang tersebut, berpura-pura tidak melihat mereka, berharap suatu hari mereka akan menghilang dan kita tak perlu lagi harus bertemu dengan seorang pun dari mereka di sekitar kita.
.
Saat itu, setelah selesai mengobrol dengan si bapak-bapak warung tersebut dan pulang ke rumah, aku menyempatkan diri melihat ke gerbang sekolahku yang kosong.
Sang Pengemis tersebut sudah tidak ada, dan takkan pernah kembali lagi.
Kuharap, suatu hari nanti, takkan ada lagi orang yang akan mengalami apa yang dia alami.

Minggu, 14 Juli 2013

cerita inspiratif

sebuah cerita inspiratif yang dibuat oleh kak Hevi Metalika Aprilia, seorang mahasisiwi Institut Petanian Bogor jurusan Silvikultur Fakultah Kehutanan, yang memiliki semangat juang yang tingggi untuk meraih cita-citanya sehinnga beliau menjadi seorang mahasiswa yang LUAR BIASA . Yuukkk SEMANGAT untuk meraih apa yang telah kalian rencanakan, kak Hevi aja bisa kenapa kita tidakk ???

SEMANGAAATTTTTT ..........



Aku, yang sejak kecil bahkan tidak berani bermimpi.
Aku, yang sejak SD bahkan tidak berani berangan untuk melanjutkan ke SMP, apalagi SMA.
Aku, yang sejak berusia 9 tahun bahkan tidak merasakan lagi kehangatan sebuah keluarga.
Aku, yang sejak berusia 10 tahun bahkan harus terpisah dari seseorang yang telah melahirkanku.
Aku, yang sejak berusia 12 tahun bahkan harus menjalani kerasnya kehidupan ini sendirian.
Aku, yang sejak SD-SMP hanya mengandalkan beasiswa untuk bisa sekolah.
Aku, yang sama sekali tidak tahu harus kemana setelah lulus SMA.
Aku, yang berangkat ke Bogor hanya bermodal niat, keberanian dan semangat.
Aku, yang penuh dengan segala keterbatasan.
Aku, Hevi Metalika Aprilia. Pemilik nama aneh yang selalu ditertawakan setiap kali memperkenalkan diri dalam sebuah forum baru.

Saat ini, aku seorang mahasiswa semester tiga Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Setiap ditanya, bagaimana perasaanku menjadi bagian dari kampus hijau ini, aku selalu menjawab dengan sangat antusias, “Aku bangga sekali !”. Bagaimana tidak, aku yang awalnya tak pernah berani bermimpi sedikitpun untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, ternyata bisa sampai ke sini. Sebuah Perguruan Tinggi Negeri ternama di Negara ini. Aku masih ingat perkataan ibuku melalui telepon tetangga saat itu, “Nak, kan sudah melanjutkan sampai SMA, jadi sudah dulu ya? Berhenti dulu, kerja dulu.” Perkataan yang sama ketika aku baru lulus SMP. Bedanya, saat itu aku di sarankan untuk tidak melanjutkan ke SMA.
Ah, betapa saat itu hatiku terasa sakit. Memang, Ibuku hanya lulusan SMP dan Bapakku lulusan SMA. Tapi, tidakkah aku memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi dari mereka? Berbagai perasaan sedih dan sakit berkecamuk dalam hatiku. Tapi aku tidak akan menyerah hanya dengan berkata “iya” begitu saja. Kalau dulu aku bisa berusaha hingga masuk SMA, kenapa ke perguruan tinggi tidak?
Sungguh aku sangat mengerti, kenapa saat itu Ibu  memintaku untuk tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Tentu saja satu hal itu yang menjadi permasalahan utama. Uang. Aku tahu itu. Aku tak bisa berkata-kata lagi jika sudah menyangkut hal itu. Ibu memang bekerja sendiri untuk membiayai seluruh keperluan sekolahku dan adikku sejak dulu. Jangan tanya, kamana Bapakku? Tolong jangan tanyakan itu. Pertanyaan itu sangat menyiksaku. Pertanyaan itu benar-benar membawaku ke sebuah masa lalu yang teramat menyakitkan.
***

9 tahun yang lalu….

Perempuan itu begitu asing. Perempuan itu datang bersama Bapakku, masuk ke dalam rumah kami. Masuk ke dalam kehidupan kami. Aku masih begitu polos untuk sekedar bertanya, “Siapa perempuan itu?”. Yang aku tahu, betapa saat itu tetangga-tetangga sibuk membicarakan keluarga kami. Katanya, perempuan itu adalah istri muda Bapakku. Dengan polosnya, aku menanyakan hal ini kepada Ibu. Ya Allah, betapa aku ingin menangis melihat ekspresi wajah ibu. Aku ingin menangis. Bukan karena kesedihan Ibu. Bukan. Bahkan Ibu sama sekali tidak menunjukkan wajah sedihnya. Dengan senyum lembutnya Ibu berkata, “Iya. Dia Ibu barumu, Nak.”
Sungguh aku tidak mengerti apa yang terjadi. Senyum Ibu. Ketegaran dan kekuatan hatinya membuatku ingin menangis. Aku menahan tangisku dalam pelukannya. Dan hatiku semakin terluka ketika melihat wajah adikku dalam usianya yang baru menginjak tahun ke dua.
Hanya beberapa minggu perempuan itu tinggal di rumah kami. Dia kembali ke tempat dimana dia berasal dengan membawa orang yang sebelumnya telah menjadi kepala keluarga kami. Ya, Bapak pergi meninggalkan rumah bersama perempuan itu. Tidak pernah kembali lagi. Kepergian Bapak menyisakan ribuan luka di hati kami. “Bapak, lihatlah. Berapa banyak hati yang terluka akibat tindakan itu ?”

***

Setelah kepergian Bapak, kondisi perekonomian keluarga kami semakin memburuk. Ibu bekerja sebagai pencuci ikan di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang terletak di sebuah pelabuhan yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami, dengan gaji mingguan yang kurang dari seratus ribu rupiah. Saat itu aku duduk di kelas 5 MI (Madrasah Ibtidaiyah)−setara SD (Sekolah Dasar), sedangkan adikku baru saja masuk TK (Taman Kanak-Kanak). Tentu saja gaji Ibu tidak mencukupi untuk kebutuhan kami bertiga. Ibu bermaksud ingin mencari pekerjaan lain, tapi Ibu yang hanya lulusan SMP sangat sulit mendapat pekerjaan dengan gaji yang lebih besar dari sebelumnya. Hingga tawaran itu datang, tawaran untuk menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Malaysia. Setelah memohon ijin dari kami, Ibu mengambil tawaran itu dengan syarat tidak mau bekerja di bagian rumah tangga meskipun gajinya besar. Karena kami takut terjadi sesuatu dengan Ibu, bagaimanapun juga banyak kasus TKW dianiaya yang bekerja di bagian rumah tangga. 28 Juli 2003, ibu pergi meninggalkan kami.
Sejak hari itu aku tak pernah cukup kasih sayang, apalagi perhatian. Ibu menitipkan aku dan adikku di sebuah gubuk kecil bersama seorang nenek tiri dari keluarga Ibu. Namun, tidak sampai satu bulan nenek tiriku memutuskan untuk pindah ke kampung halamannya, dengan membawa satu-satunya keluarga yang aku miliki−adik laki-lakiku yang saat itu berusia 3 tahun. Aku tidak mungkin ikut, karena aku harus tetap bersekolah. Saat itu aku baru menginjak awal tahun pelajaran kelas 6 MI. Akhirnya, aku tinggal sendirian di sebuah gubuk kecil satu-satunya peninggalan orangtuaku. Di situlah aku mulai merasakan dengan sadar, tentang kesedihan, kesepian, dan ketidaknyamanan hidupku.
Ketika tiba saatnya untuk pelepasan siswa kelas 6 MI, aku merasa menjadi anak paling malang di seluruh dunia. Semua temanku datang bersama orangtua mereka. Sedangkan aku? Siapa walimuridku? Tak satupun keluargaku yang datang. Lengkaplah kemalangan yang aku rasakan, ketika kepala sekolah mengumumkan di atas panggung bahwa peraih nilai tertinggi adalah Hevi Metalika Aprilia−siswanya yang paling menyedihkan.
Ya Allah, untuk apa nilai tertinggi itu? Aku bahkan tak merasa bangga pada diriku. Aku tak peduli, saat semua yang hadir menganggapku sebagai anak paling pintar diantara teman-temanku. Aku samasekali tidak peduli. Apalah arti penghargaan itu tanpa kehadiran orangtuaku ?

***

Begitulah kehidupanku berjalan hingga aku beranjak masuk SMP. Aku tinggal sendirian. Catat itu : sendirian !  Tapi tidak lagi di gubuk kecil-ku dulu. Gubuk itu kini diperbaiki dan dijadikan tempat tinggal oleh pamanku dan istrinya. Tapi, tunggu dulu ! Jangan berfikir pamanku sangat baik hati dengan mengajakku tinggal di rumah itu. Aku di usirnya. Ya, sekali lagi diusir. Pakaianku di letakkannya di depan rumah. Hingga aku dipungut oleh tetanggaku, yang kemudian mengajakku tinggal bersamanya.
Hari-hariku terasa berat. Aku sadar sesadar-sadarnya, kalau aku cuma numpang. Sehingga setiap hari aku harus bekerja membantu pamilik rumah, cuci-cuci, membersihkan rumah, halaman, hingga memasak. Hidup penuh kesabaran adalah hal yang paling sulit aku jalani.
Terkadang aku merasa iri dengan teman-temanku di sekolah. Mereka berangkat dengan kegembiraan di hati mereka, dan pulang disambut ibu mereka di rumah. Lalu, dengan ceria mereka bercerita tentang hari-hari seru mereka di Sekolah. Sedangkan aku? Ketika aku pulang, tak ada siapapun di rumah. Aku menangis setiap saat sampai air mataku kering. Tetap saja tak ada yang peduli padaku. Begitulah aku menjalani dunia-ku, dunia-ku yang aku yakini tak seorangpun ingin hidup dalam dunia itu.
Hingga suatu hari, Bu Yuyun −guru di SMP Negeri 1 Palang− memanggilku ke kantor. Beliau menyampaikan padaku bahwa ada orangtua murid yang sedang mencari salah satu murid lain untuk menemani putrinya−yang nilai matematikanya kurang−belajar dirumah. Kebetulan saat itu aku sebagai siswa dengan nilai matematika tertinggi di sekolah (Allahu Akbar). Demikian orangtua murid itu menjemput dan mengajakku tinggal di rumahnya. Sebuah rumah yang seolah surga bagiku. Aku tinggal di rumah itu hingga aku duduk di kelas 2 SMA.
***

Meski jarak yang begitu jauh memisahkan aku dan Ibu, tapi kami tetap menjaga komunikasi. Ibu sering meneleponku melalui telepon dari rumah tetangga, karena aku baru memiliki handphone  ketika masuk SMA. Mengenai kabar adikku, aku sangat jarang bertemu dengannya. Aku hanya main ke sana jika Idul Fitri atau ada hari-hari libur tertentu.
Status Ibu memang masih menjadi seorang istri, karena Bapak tidak pernah mau menceraikan Ibu. Tapi itu hanya sekedar status semu menurutku. Karena toh Bapak tidak pernah menafkahi keluarga kami lagi. Ibu masih teramat muda untuk diperlakukan Bapak seperti ini. Ibu kelahiran tahun 1972, masih muda bukan?
Saat usiaku 16 tahun, aku sudah cukup untuk bisa berfikir dewasa. Aku sedih melihat kondisi keluargaku seperti ini. Dengan mengumpulkan segenap keberanian dan keteguhan hatiku, aku berniat mendatangi Bapakku di rumahnya. Nampaknya Bapak sangat terkejut dengan kedatanganku. Beliau mempersilahkan aku duduk di kursi depan rumahnya. Sebelum Bapak berkata apapun, aku memberondongnya dengan kalimat-kalimatku yang entah aku dapatkan dari mana.
“Bapak mungkin heran dengan kedatanganku. Aku tidak ingin meminta apapun. Sama sekali tidak. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang aku rasakan selama ini.  Bapak, lihat aku. Aku anakmu kan? Tapi pernahkah sedikit saja engkau berfikir:  Bagaimana keadaanku? Di mana aku tinggal? Apa aku sudah makan? Bagaimana sekolahku? Pernahkah berfikir seperti itu? Tahukah kau bapak, di mana aku sekolah? Kelas berapa aku sekarang? Berapa nilai raportku? Tahukah? Bapak, sejak aku TK sampai sekarang bahkan engkau tak pernah sekalipun menginjakkan kakimu di sekolahku untuk sekedar mengambilkan raportku. Bahkan mungkin kau tidak tahu aku sekolah dimana? Tahukah, sejak kepergian Ibu ke Malaysia kehidupanku terlantar. Dari satu rumah ke rumah lain untuk menumpang tinggal. Tahukah, bagaimana perjuanganku untuk tetap bisa sekolah? Siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas hidupku? Atas pendidikanku? Tahukah, setiap kali tiba waktunya pengambilan raport aku harus menangis dan memohon kepada orangtua temanku agar sekalian mengambilkan raportku? Tahukah, setiap kali pertemuan wali murid di sekolah tidak pernah ada yang datang menjadi waliku? Pernahkah engkau memikirkan itu semua, Bapak? Pernahkah?”
Tak terbendung sudah air mataku. Aku menangis sejadi-jadinya. Setiap orang yang berlalu-lalang di depan rumah menatapku dengan pandangan iba. Sementara Bapak hanya diam mematung di hadapanku. Aku melanjutkan kalimatku, “Dulu mungkin aku masih diam saja, karena aku masih terlalu polos untuk mengerti semua ini. Tapi sekarang tidak, Bapak. Aku tidak akan diam saja. Aku tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi pada adikku. Lihatlah, adikku sekarang berusia 9 tahun. Dia belum bisa baca-tulis. Tidak ada yang mengajarinya. Tidak ada yang mengontrolnya. Aku minta tolong, Bapak. Aku mohon. Ceraikan ibuku. Dulu menikah baik-baik kan? Jadi aku mohon berpisah juga dengan cara yang baik-baik. Jangan mendzolomi Ibuku dengan tetap mengikatnya sebagai istri tapi tidak pernah engkau perlakukan sebagai istri, tidak pernah kau berikan hak-haknya.  Ibuku masih terlalu muda. Biarkan Ibu menikah lagi. Biar Ibu bisa pulang dan mendampingi adikku di rumah. Aku mohon.”
Sunyi. Tidak ada yang bicara sepatah katapun. Setelah diam cukup lama, Bapak berkata, “Pulanglah. Malu dilihat banyak orang !” Sejenak aku merasa marah dengan ucapan Bapak. Setelah perkataanku yang begitu panjang. Hanya itu tanggapannya? Ya Allah, ampuni Bapakku. Beri aku kesabaran dan kekuatan. Aku mengusap sisa air mata dengan jilbabku. Kemudian pergi meninggalkan rumah itu.

***

Menjelang Ujian Akhir Nasional SMA, hampir seluruh teman-temanku sibuk mempersiapkan untuk mengikuti berbagai bimbingan belajar. Baik bimbingan belajar untuk menghadapi Ujian Akhir Nasional, maupun untuk persiapan masuk perguruan tinggi. Semua seolah berlomba-lomba untuk masuk di perguruan tinggi favorit. Namun, tidak dengan yang aku alami. Sejak awal semester akhir di kelas 3 SMA, Ibu sudah mengingatkan aku, “Nak, kan sudah melanjutkan sampai SMA, jadi sudah dulu ya? Berhenti dulu, kerja dulu.” Kalimat itu benar-benar menghantuiku. Selalu terngiang di telingaku setiap kali aku tergabung dalam pembicaraan bersama teman-temanku tentang kuliah. Sehingga aku hanya bisa diam dan tetap berusaha tersenyum menahan kepahitan tiap kali ada yang bertanya, “Mau kuliah dimana, Met?”
Hingga suatu hari datanglah kakak-kakak kelas dari berbagai perguruan tinggi ke sekolahku−SMA Negeri 2 Tuban. Sama seperti teman-teman yang lain, aku begitu antusias untuk mengikuti dan selalu bertanya-tanya tentang beasiswa. Tapi nampaknya begitu sulit mendapat beasiswa bagi seorang mahasiswa baru. Ya sudahlah, Allah pasti punya rencana lain yang jauh lebih indah untukku. Pikirku, setiap kali rasa pesimis itu datang.
Dan Allah benar-benar menunjukkan rencana indahnya. Akhir tahun 2010, Bu Ida−Guru Bimbingan dan Konselingku−menyarankan agar aku mengikuti PMDK Prestasi (USMI) di IPB. Awalnya aku menolak, sungguh aku tak punya uang satu rupiah pun. Bagaimana mungkin aku akan mendaftar? Uang pendaftaran dua ratus ribu rupiah aku dapat darimana? Tapi bu Ida terus meyakinkan aku, beliau berkata, “Hevi, berusahalah. Ibu yakin kamu pasti bisa. Ibu beri waktu 1 minggu untuk mengumpulkan uang. Kalau sampai 1 minggu masih belum dapat juga, datang temui Ibu”. Akhirnya, dengan penuh semangat aku berusaha mencari dan mengumpulkan uang hingga tepat satu minggu setelah itu aku berhasil mengumpulkan Dua Ratus Ribu Rupiah. Berkas-berkas pendaftaran pun dikirim.

Kamis, 4 Februari 2010. Jam pertama sekolah…….

Ketika aku sedang berada di lapangan mengenakan kaos olahraga, tiba-tiba Bu Ida berjalan menuju lapangan dengan tampang kesal, sambil teriak “Mana Hevi !!! Mana…???” Aku kebingungan, sungguh aku benar-benar bingung. dengan tampang tak berdosa aku balik bertanya, “Iya Bu, saya Hevi Bu, Kenapa Bu?”, “Mana temanmu yang lain?” Tanyanya lagi dengan tampang yang tak berubah. “Yang lain? Siapa Bu?” Aku kembali mengajukan pertanyaan. “Itu… Fikri, Deviana… sama siapa satunya yang daftar IPB itu?”, “Erna, Bu?”, “Ya, panggil semua kesini”.
Dengan cepat aku segera berlari menuju tengah lapangan, tak lupa mengeluarkan jurus andalanku−teriak. Tak peduli semua mengumpat ke arahku. Setelah semua kumpul, kami berjalan ke tepi lapangan menemui Bu Ida. Dengan raut muka yang tetap tidak berubah, bu Ida berkata “Kalian ini bagaimana? Masa 1 pun tidak ada yang lolos PMDK IPB ??”
Demi Allah, aku benar-benar ingin menagis. Dengan tampang frustasi, kami berempat terduduk lesu di tepi lapangan. Tiba-tiba Bu Ida berkata,“Kalian sih, tidak mau syukuran. Ayo lah syukuran di kantin sana !” Dengan tampang bengong aku bertanya, “LHO? Maksudnya? Katanya tadi? Bagaimana toh Bu?”. Bu Ida malah nyengir lebar menanggapi pertanyaanku. “Kalian Semua DITERIMA masuk IPB”
Subhanallah, aku menangis. Sungguh aku menangis. “Oh..iya, kelihatannya salah satu dari kalian ada yang dapat beasiswa” tambahnya, sebelum berlalu meninggalkan kami dalam kebingungan. Aku terduduk lesu di tepi lapangan, seketika semua teman-teman menghampiriku. Mereka memelukku. Usai olahraga, aku bergegas menuju Ruang BK mencari Bu Ida. Sepertinya Bu Ida tau maksud kedatanganku, beliau segera menyuruhku duduk di hadapannya dan menyerahkan MAP dari IPB kepadaku, Bu Ida menyuruhku membukanya. Di lampiran ke-3 (kalo tidak salah) ada lampiran Calon Penerima Beasiswa Bidik Misi. Allahu Akbar !!!
Alhamdulillah, meskipun hanya formulir Calon Penerima Beasiswa Bidik Misi, tapi aku sangat bersyukur. Kesempatan itu semakin terbuka lebar. Meski aku belum berani memberi kabar kepada Ibu bahwa aku telah mendaftar ke IPB. Aku akan memberitahukannya nanti, nanti setelah beasiswa itu benar-benar nyata di genggamanku.
Aku segera mengurus surat-surat dan berkas-berkas yang diperlukan untuk persyaratan beasiswa itu. Menjelang H-2 deadline pengiriman formulir dan segala macam persyaratannya itu, semua sudah lengkap aku penuhi. Aku menyerahkannya pada pihak sekolah. Namun, ketika H-1 deadline pengiriman, aku mendapat telepon dari pihak sekolah bahwa berkas-berkasku hilang akibat kelalaian petugas sekolah. Astaghfirullah, ingin sekali aku menangis dan berteriak marah. Jarak rumah dan sekolahku tidak bisa dibilang dekat, aku sendiri nge-kost di rumah teman yang dekat sekolahku. Sore itu juga aku naik angkutan umum ke Desa tempat asalku. Yang pertama kali menjadi tujuanku adalah rumah Kepala Desa, tentu saja ingin meminta surat keterangan tidak mampu. Dua jam perjalanan ternyata masih kurang sebagai bagian dari perjuanganku, aku masih harus menunggu Kepala Desa yang ternyata sedang dalam perjalanan dari luar kota. Setelah 3 jam menunggu tak ada hasil, karena sudah lewat jam 9 malam juga, aku memutuskan untuk menginap di rumah salah satu temanku yang dekat dengan rumah Kepala Desa itu. Esok paginya, setelah sholat shubuh aku langsung ke rumah Kepala Desa. Setelah itu aku bergegas mengurus berkas-berkas yang lain, karena pagi ini semuanya sudah harus dikirim ke IPB. Tetapi meski sudah berusaha semampuku, birokrasi yang begitu rumit membuat aku terlambat melakukan semuanya. Hampir jam 3 sore semua berkas-berkas baru bisa dipenuhi. Akhirnya, dengan mengharap keajaiban dari Allah−semoga tidak terlambat−menjelang malam berkas-berkas baru dikirim.
***

Perjuangan itu indah, kawan. Lihatlah buah perjuangan sederhana itu. Beberapa bulan setelah pengiriman formulir dan berkas-berkas itu, pengumuman pun datang membawa kabar gembira. Bidik Misi pun hadir sebagai jawaban atas rencana indah-Nya. Aku menjadi Mahasiswa, kawan. Mahasiswa. Sebuah label yang dulu sama sekali tidak berani aku bayangkan.
Aku segera mengirim SMS kepada Ibu, ”Assalamualaikum. Ibu, saya mau kuliah. Saya mau kuliah di Bogor”. Seketika itu Ibu langsung meneleponku. Memberondongku dengan kalimat-kalimat marahnya, “Waalaikumsalam. Nak, kenapa kamu tidak bisa mengerti kondisi Ibu. Kondisi kita. Keadaan keluarga kita. Ibu kan sudah bilang, Ibu tidak punya uang sepeserpun untuk biaya kuliahmu. Kenapa masih memaksa untuk kuliah juga? (aku sengaja membiarkan Ibu menegurku, memarahiku terlebih dulu. Sebelum aku menyampaikan kabar gembira itu) Ibu Mohon, Nak. Lebih baik kerja saja dulu”. Setelah Ibu berhenti, aku mulai berbicara, “Ibu, Ibu tahu kan aku bukan anak yang bisa melawan orangtua. Aku tahu sekali, aku sangat tahu keterbatasan kita. Bu, dengarkan aku ya, aku mendapat beasiswa. InsyaAllah Ibu bahkan tidak perlu mengirimkan uang satu rupiahpun untuk kuliahku. Alhamdulillah, Allah mendengar doaku. Doa kita, bu”. Aku pun menangis. Sama seperti seseorang di seberang telepon sana. Kami sama-sama menangis penuh rasa syukur.
***

Mahasiswa luar biasa itu pun memulai perjalanannya. Ya, aku menyebut diriku sebagai Mahasiswa Luar Biasa. Luar biasa berati tidak biasa, bukan? Dan aku memang tidak biasa. Aku berbeda. Lihatlah, di dalam bus luar kota tujuan Bogor itu, ketika mahasiswa yang lain berangkat menuju Institut Pertanian Bogor ditemani orangtua yang duduk di samping mereka, mahasiswa luar biasa itu tengah duduk bersama orang asing di sampingnya. Dia berangkat sendiri, menyiapkan semuanya sendiri. Bahkan membawa 2 kopernya dengan tangannya sendiri.
Lihatlah, Mahasiswa Luar Biasa itu dengan keberaniannya datang ke tempat yang begitu asing baginya. Tempat yang dia yakini akan menjadikannya menjadi orang besar. Sebesar kekuatan dan keteguhan di dalam hatinya. Lihatlah, dia begitu percaya dengan janji-janji Tuhan-Nya, bahwa “Setelah kesusahan, selalu ada kemudahan”

***
Kedatanganku ke Bogor yang hanya bermodalkan niat dan semangat sempat membuatku minder sendiri. Aku takut tidak bisa mengimbangi teman-temanku di asrama. Aku takut tidak cocok bergaul dengan orang yang ‘berbeda’ denganku. Tapi, ketakutan-ketakutan itu justru berujung pada pengalaman-pengalaman yang besar. Pengalaman bertemu dan mengenal sosok-sosok yang mengagumkan.
Aku yang baru menyadari bahwa aku diterima di Fakultas Kehutanan, merasa sedikit ganjil. Ya, aku sama sekali tidak tertarik dengan jurusan ini. Pilihan pertamaku adalah Arsitektur Lanskap, sesuai hobi menggambarku. Awal kuliah di kehutanan, aku sangat tidak menikmati. Ya Allah, bahkan aku tidak mengerti mata kuliah di jurusanku sendiri. Tapi, berjalannya waktu aku mengerti, aku memahami. Allah punya rencana besar di balik semua ini.
Juni 2011, sebuah pengalaman luar biasa itu di mulai. Berawal dari sebuah ajakan untuk menulis karya sederhana, paper. Yang kemudian dikirimkan dan diterima di sebuah event ICEEA 2011 (International Conference on Environmental Engineering and Applications) di Shanghai, China. Dalam kelompok ini, perasaanku seringkali terlibat. Rasa minderku muncul lagi. Latar belakang yang berbeda benar-benar aku rasakan di sini. Registration author yang memerlukan biaya ratusan dolar benar-benar memeras otakku. Ketiga temanku dapat dana dari keluarga mereka, sedangkan aku? Siapa keluargaku? Sementara pengajuan proposal belum bisa dilakukan sebelum proses registrasi ini selesai. Mondar-mandir ke sana ke mari tidak ada hasil. Berniat mendanuskan tenaga, tapi tidak ada tanggapan. Sementara deadline pembayaran semakin mepet. Berkali-kali aku berfikir ingin mengikhlaskan kesempatan ini, toh dari awal aku tak pernah punya impian untuk ke luar negeri. Tapi kata-kata seorang kakak yang menjadi pembimbing kami benar-benar menjadi beban buatku, “Kakak tidak merestui kalian pergi, jika ada salah satu yang tidak berangkat karena faktor ekonomi”. Sungguh, sejak saat itu malam-malamku dipenuhi air mata. Ingin sekali aku ungkapan segalanya pada sosok Ibu. Tapi itu mustahil.
Hingga hari-H itu datang, deadline registration author. Kembali Allah menunjukkan rencananya yang indah. Akhirnya, kami semua dapat membayar registration author yang totalnya 1600 dolar itu.

Tapi perjuangan tidak berhenti sampai di situ, kawan. Justru setelah pembayaran registration author itu perjuangan yang lebih berat baru saja di mulai. Lihatlah, mahasiswa luar biasa itu bersama teman-temannya berkumpul dan rapat setiap hari. Dari pagi sampai larut malam. Setiap hari. Selama hampir 2 bulan. Tanyakanlah, apa yang mereka lakukan selama itu?
Lihatlah, kawan. Dengan penuh semangat mereka mengumpulkan biaya keberangkatan. Mereka berjualan nasi kuning, kue, bunga, hingga parsel. Mereka tawarkan dagangannya dari satu rumah ke rumah lain. Mengetuk setiap pintu yang mereka lewati. Lihatlah, mereka tidak malu melakukannya.
Hasilnya?
Lihatlah, 18 Agustus 2011 mereka berhasil mewujudkan impiannya. Mereka berhasil menginjakkan kakinya di sebuah Negeri yang maju. Shanghai, China.

***

23 Agustus 2011, 00:10 WIB

Aku kembali menginjakkan kakiku di Negeri ini, Indonesia. Begitu sampai di kamar kostku, aku segera tertidur dengan lelapnya. Sore harinya langsung berangkat ikut rombongan teman-teman untuk mudik ke Tuban, Jawa Timur. Sebenarnya, aku malas sekali untuk pulang ke kampung halaman. Bukan karena sudah nyaman di Bogor, sama sekali bukan. Tapi karena aku sama sekali tidak tahu harus ke mana jika aku tiba di Tuban. Tidak ada rumah yang menjadi tujuanku. Tapi aku sudah terlanjur memesan tiket pulang. Akhirnya aku pulang.
Setelah 17 jam lebih di perjalanan, aku sampai di Tuban. Tidak banyak yang berubah dari kota ini, hanya saja ada beberapa bangunan dan tempat wisata baru. Aku dijemput di dekat terminal bis oleh teman SMA-ku, kemudian istirahat sejenak di rumahnya. Kampungku masih jauh dari kota ini, harus naik angkutan umum kurang lebih satu jam, itupun kalau tidak macet. Jadi aku memutuskan untuk tidur siang dulu di rumah sahabat lamaku ini.
Menjelang sore hari, aku memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku. Selama perjalanan, aku dilanda kegalauan yang luar biasa. Entahlah, aku juga tidak tahu apa sebabnya. Yang pasti, saat itu hanya satu yang tidak bisa lepas dari pikiranku : “Kemana aku menginjakkan kakiku setelah sampai? Ke rumah siapa?”. Tepat setelah adzan maghrib berkumandang, aku sampai di jalan setapak menuju rumah sepupu ibuku yang dulu aku pernah sempat tinggal di sana. Di rumah itu, masih ada beberapa barangku yang tertinggal, jadi sekalian saja aku ke sana−pikirku.
Aku masih ingat dengan jelas, saat itu masih bulan ramadhan, dan aku sedang berpuasa. Begitu aku menginjakkan kaki di rumah itu, tak satupun penghunianya menyapaku dengan ramah. Tentu saja aku tidak berani memasukkan koperku ke dalam, sehingga koper dan tas ranselku aku tinggal di depan pintu rumah. Melihat kondisiku yang begitu lelahnya, tak sedikitpun mereka menawarkan minuman. Ya Allah, aku belum berbuka puasa. Aku benar-benar menahan air mataku agar tidak keluar.
Segera aku mencari warung terdekat untuk membeli minuman. Aku menghampiri sebuah warung minuman, yang dulu merupakan warung langganan di masa kecilku. Tetangga-tetanggaku kaget melihat kedatanganku. Banyak yang mengajakku berbincang tentang keadaanku selama di Bogor. Alhamdulillah, ada yang menawariku berbuka puasa, dan aku pun sholat di salah satu rumah mereka. Setelah itu, aku memberanikan diri membawa koper dan tas ranselku meuju rumah adik kelasku yang dulu sangat akrab denganku. Aku menceritakan kondisiku saat itu, dia menawariku untuk menginap di rumahnya selama aku liburan di sana. Aku tidak langsung menjawab ‘iya’, aku hanya mengucapkan terima kasih banyak atas tawarannya.
Saat itu aku benar-benar tidak bisa berhenti menangis. Aku menangis dalam keheningan di sudut kamar adik kelasku ini. Aku membuka facebook dan langsung update status seperti ini :

“Sedih ga sih? Ketika mudik ga ada tempat yang bisa kita tuju?
Sakit ga sih? Ketika pulang ga ada tempat yang bisa menerima kita untuk sekedar duduk istirahat? Pengen balik ke bogor. Seenggaknya aku punya kamar kost di sana L

Dalam hitungan detik, banyak komentar masuk secara bersamaan. Hingga saat itu, seseorang langsung meneleponku. Teman SMP-ku, yang dulu pernah mengajakku tinggal di rumahnya. Rumahnya yang dulu seolah surga buatku. Bahkan hari itu kembali dia menelepon dan memintaku ke rumahnya setelah dia membaca statusku.
Lihatlah, kawan. Lebaran yang umumnya dinikmati setiap orang bersama keluarganya, justru dinikmati bersama keluarga orang lain. Hidup memang aneh. Oh tidak ! Ralat : Hidupku memang aneh. Aneh. Tidak biasa. Luar biasa.

***

Sehari setelah lebaran Idul Fitri aku segera kembali ke Bogor. Meskipun sebenarnya masih ada waktu libur satu minggu lagi, tapi aku tak berminat melanjutkannya. Aku lebih memilih menghabiskan sisa liburanku di kamar kost-ku sambil mengerjakan Laporan Pertanggung-Jawaban ICEEA 2011.
Sebuah berita yang mengejutkan hadir di minggu terakhir bulan september. Tiba-tiba aku bersama dua orang temanku mendapat panggilan dari Humas IPB untuk wawancara. Katanya, kami sebagai mahasiswa Bidik Misi yang telah berhasil menorehkan prestasi di luar negeri. Prestasi? Ya Allah, apa yang harus aku katakan? Itu hal yang sangat biasa menurutku. Bukan apa-apa. Aku malu dengan kalimat itu, “menorehkan prestasi di luar negeri” ?
Beberapa hari setelah itu, hal yang lebih mengejutkan berkali-kali lipat itu hadir lagi. Namaku, bersama dua orang temanku itu terpampang di Web Direktorat Kemahasiswaan IPB sebagai Mahasiswa Bidik Misi Berprestasi. Dan ternyata itu belum cukup, keesokan harinya tulisan yang sama termuat dalam Kompas.com dan Web Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional.
Ya Allah, ini anugerah atau musibah? Aku bingung. Bingung sekali. Apalagi sebagai akibat dari tulisan-tulisan itu banyak sekali yang mengucapkan selamat melalui pesan facebook. Anehnya lagi, ucapan-ucapan itu sebagian besar datang dari mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi lain. Aku bingung, harus bagaimana menanggapi pesan-pesan itu? karena kenyataannya sungguh jauh berbeda dari berita yang tersebar itu.

Kawan, dengarlah. Aku tak sehebat apa yang ada di pikiran kalian. Aku memang mahasiswa luar biasa, tapi konotasinya sebagai mahasiswa yang memang bukan mahasiswa seperti kebanyakan mahasiswa lain. Aku bahkan tidak mengerti mata kuliah di jurusanku sendiri. Aku bahkan selalu mengantuk dan tidur di pojok kelas ketika dosen sedang memberi materi di depan. Aku bahkan sering bolos kuliah. Aku malu sekali.
Berita-berita itu memang terlalu berlebihan menurutku. Tapi seseorang meyakinkanku, bahwa aku tidak boleh merasa malu atas berita itu. Justru aku harus menjadikannya sebagai alasan kuat agar aku bisa lebih baik lagi. Lebih baik lagi, menjadi mahasiswa luar biasa yang benar-benar luar biasa. Luar biasa dalam konotasi yang benar-benar tidak biasa dalam hal ke-tidakbiasa-an yang baik.

***

Itulah kisahku. Kisah yang merupakan bagian dari proses kehidupan. Mungkin di awal banyak bagian pahitnya. Tapi aku percaya, bagian manisnya akan terasa di akhir. InsyaAllah.
Kepada Bapakku, ingin sekali aku katakan langsung di depannya :”Bapak, terimakasih banyak untuk semuanya. Karenamu aku bisa seperti sekarang. Mungkin tanpa keputusan dan tindakanmu dulu yang meninggalkan kami, aku tak akan bisa menjadi sekuat, setegar, dan seteguh sekarang. Terimakasih karena pernah begitu membuatku sakit hati. Mungkin memang itu caramu untuk mengajarkan kehidupan padaku. Hingga aku bisa seluar biasa ini.”
Sedangkan kepada Ibu, aku selalu berbicara padanya melalui hatiku. Yah, tentu saja. Karena ibuku selalu di hatiku. Setiap saat. Setiap waktu.

***

Kawan, dengarlah. Hidup ini terlalu indah untuk dilewati dengan berbagai macam keluhan. Hidup ini terlalu indah untuk dibiarkan tanpa dihiasi dengan sesuatu yang berkesan. Hidup ini terlalu indah untuk sekedar diagung-agungkan dengan impian-impian yang hanya dibiarkan tanpa perwujudan.
Maka, bergeraklah !
Bergeraklah membuat suatu perubahan besar dalam hidupmu !

Bogor, 10 Desember 2011
Di tepi Sungai Cangkurawok,
Balebak, Dramaga-Bogor